Tangani Kawasan Kumuh, Kempupera Siapkan Rp 10 Triliun

Yogyakarta – Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (Kempupera) menyiapkan dana sebesar Rp 10 triliun, untuk penanganan kawasan kumuh di 269 kabupaten dan kota di seluruh Indonesia. “Total dana yang akan digunakan oleh setiap kabupaten/kota tidak sama, tetapi disesuaikan dengan kebutuhan atau usulan berdasarkan perencanaan yang disusun,” kata Dirjen Cipta Karya Kempupera, Sri Hartoyo, di sela kunjungan ke Karangwaru Riverside di Yogyakarta, Selasa (15/11). Meskipun menyiapkan dana yang cukup banyak, kata dia, Direktorat Jenderal Cipta Karya tidak ingin provinsi, atau kota dan kabupaten hanya berpangku tangan menunggu bantuan dari pusat. “Provinsi, kabupaten/kota tetap harus memberikan pendampingan di daerah masing-masing agar program penanganan kawasan kumuh bisa berjalan dengan baik,” kata Sri Hartoyo. Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (Menpupera), Mochamad Basoeki Hadimoeljono, mengatakan, program penanganan kawasan kumuh dilakukan dengan menggerakkan masyarakat sekitar. Salah satu program penanganan kawasan kumuh yang sedang gencar dilakukan pemerintah adalah melalui Program Kota Tanpa Kumuh (Kotaku) yang mengedepankan keterlibatan masyarakat. “Kegiatan yang dilakukan di Karangwaru Riverside adalah salah satu contoh pelaksanaan program penanganan kumuh berbasis masyarakat. Warga terlibat dalam kegiatan penanganan kawasan kumuh,” katanya. Kegiatan penanganan kawasan kumuh di Kelurahan Karangwaru, khususnya kawasan yang berada di sepanjang bantaran Sungai Buntung dilakukan dengan bantuan dana dari Kempupera sejak 2010. Warga di sekitar membagi kawasan sungai menjadi enam segmen, dengan kegiatan penanganan kawasan kumuh yang berbeda-beda di tiap segmennya. Warga sudah menuntaskan kegiatan di segmen satu dan dua, serta di segmen empat berjalan 30 persen. Sedangkan untuk segmen tiga, lima dan enam belum dilakukan penanganan. Penanganan dilakukan dengan membangun jalan lingkungan di bantaran sungai, mengubah muka rumah sehingga menghadap sungai. serta menyediakan ruang terbuka publik untuk kegiatan interaksi masyarakat sekitar. “Kegiatan yang sudah dilakukan di Karangwaru sangat baik dan bisa dijadikan contoh. Mungkin akan lebih menarik jika diselipkan cerita sejarah mengenai daerah ini,” kata Basoeki. /FER

Sumber: BeritaSatu