Meredanya Risiko Global dan Domestik Picu Penguatan Rupiah

Jakarta –Berkurangnya risiko global dan domestik mendorong kenaikan nilai rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS), Selasa (6/12). Data transaksi spot Bloomberg pukul 12:38 WIB, siang ini menunjukan nilai tukar rupiah menguat hampir 100 poin (92 poin) menjadi Rp 13.348 per dolar AS, dibanding penutupan kemarin Rp 13.440 per dolar. Direktur Kebijakan Ekonomi dan Moneter Bank Indonesia (BI) Juda Agung mengatakan, sejak kemarin pergerakan rupiah cenderung menguat dibandingkan negara lain sejalan sentimen positif fundamental ekonomi Indonesia. “Sentimen positif, yang fundamental ekonomi,” kata dia di Jakarta, Selasa (6/12). Sementara Direktur Eksekutif Indef Enny Sri Hartati melihat faktor persepsi dan aksi jual dolar mempengaruhi penguatan rupiah hari ini. Menurutnya, setelah aksi 4 November dan 2 Desember berjalan damai, maka investor melihat risiko politik domestik berkurang. “Kalau dilihat fluktuasinya sejak kemarin, setelah mereka profit taking, ditambah ternyata gak ada demonstrasi seperti yang diisukan, mereka menjual dolarnya,” kata dia. Menurut dia, dalam jangka panjang perlu ada upaya penguatan nilai tukar dengan menghilangtkan peran dolar AS sebagai referensi perdagangan maupun investasi. “Kita harus renegosiasi perdagangan dan investasi, misalnya dengan Tiongkok ya dia kalau impor dari kita pakai rupiah, ini kan masalah trust pelaku pasar terhadap mata uang. Kalau ini bisa secara perlahan dimulai, gak hanya ekspor impor tapi investasi juga, ini akan mengurangi keterganungan terhadap dolar,” kata dia. Sementara Ekonom PT Samuel Sekuritas Rangga Cipta melihat sikap Bank Indonesia yang kembali menyatakan akan adanya dana repatriasi amnesti pajak Rp 100 triliun pada Desember 2016 turut menjadi sentimen positif bagi mata uang domestik. Di sisi lain, kata dia, secara umum harga minyak yang relatif stabil serta pelemahan dolar AS di Asia juga akan menambah ruang kenaikan rupiah. Ia mengatakan bahwa risiko global dari ketidakpastian kenaikan suku bunga Amerika Serikat juga cenderung mulai mereda. “Selain itu sentimen mengenai inflasi yang terjaga di level rendah masih menjadi salah satu faktor yang menjaga stabilitas mata uang domestik. Ia mengatakan bahwa pasar surat utang di dalam negeri yang dalam beberapa hari terakhir mulai diminati investor turut menguatkan mata uang rupiah,” kata dia. Yosi Winosa/WBP BeritaSatu.com

Sumber: BeritaSatu